Lawan Menjadi Kawan

“Ratna!Ratna! Apakah kamu mendengarkan penjelasan ibu?” teriakan Bu Siti membuyarkan lamunan Ratna. Saat ini Ratna merasa sangat kesal karena perbuatan jahil Reza. Dia sudah tidak dapat berkonsentrasi lagi terhadap pelajaran. Dari tadi Ratna hanya menatap kosong ke arah papan tulis. Reza adalah musuh bebuyutan Ratna di sekolah. Hampir setiap hari Ratna dan Reza selalu saja bertengkar. Sampai-sampai teman-teman Ratna menjuluki mereka si Tom dan si Jerry. Entah kenapa Reza selalu saja menjahili Ratna. Mulai dari menyembunyikan kotak pensil Ratna, menaruh serangga di rambut Ratna, mengejek-ejek Ratna, menempelkan permen karet di kursi Ratna hingga perbuatan jahil lainnya.

Bel sekolah berdering tujuh kali menandakan berakhirnya pelajaran di sekolah. Ratna pun bersiap pulang. Saat Ratna hendak merapikan bukunya, dia menyadari ada sesuatu yang hilang. “Di mana buku matematikaku? Kok enggak ada? Tadi kan aku simpan di sini!” Ratna dengan panik mencari-cari buku matematikanya. “Hah? Masa sih? Coba cari lagi deh, mungkin saja terselip di antara buku-buku yang lain,” saran Esty teman baik Ratna. Setelah mencari beberapa saat, Ratna tetap tidak menemukan buku matematikanya. “Aduh, gimana nih? Besok kan ulangan matematika,” pikir Ratna dalam hati.

Teman-teman di kelas Ratna sudah pulang semua termasuk Esty. Kini tinggal Ratna sendirian. Ratna pun tetap mencari-cari dan masih belum menemukannya. Sejenak, Ratna berpikir dan mencoba mengingat-ingat kalau-kalau dia lupa menyimpannya di mana. “Atau jangan-jangan Reza yang menyembunyikannya?” pikir Ratna. Tetapi, kemudian Ratna menghilangkan tuduhan itu karena berprasangka buruk terhadap orang lain adalah hal yang tidak benar.

Kemudian Ratna teringat bahwa kemarin dia membawa buku matematikanya itu ke laboratorium. Ratna segera bergegas menuju ke laboratorium untuk mencari bukunya. Sesampainya di sana, laboratorium terlihat sangat sepi. Tidak ada satu orang pun, kecuali… .“Reza, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ratna kepada Reza yang sedang berdiri sambil melingkarkan tangannya ke belakang seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu. “Enggak sedang ngapa-ngapain kok. Justru aku yang seharusnya bertanya! Kamu sendiri ngapain di sini bukannya sudah bel pulang?” tanya Reza dengan gelagat yang agak mencurigakan.

Sesaat, Ratna melihat sesuatu yang disembunyikan Reza di belakang punggungnya. Tanpa berpikir panjang, Ratna dengan cepat langsung merebut benda itu dari tangan Reza. Ternyata, yang sedang disembunyikan Reza adalah buku matematika milik Ratna. Ratna pun merasa sangat kesal. “Ratna, tunggu dulu! Kamu salah paham, tadi aku hanya… .” Tanpa mendengarkan penjelasan Reza, Ratna langsung memalingkan wajahnya dan berlari pulang. Di dalam kamarnya Ratna tidak henti-hentinya menangis. Saking kesalnya Ratna terhadap Reza, rasanya Ratna sudah tidak mau melihat wajah Reza lagi. Tetapi, tidak tahu kenapa justru wajah si jahil Reza terus-terusan terbayang oleh Ratna.

“Kenapa wajahmu terlihat sangat lesu, Ratna?” tanya Esty keesokan harinya di sekolah. “Enggak kenapa-napa kok! Aku hanya kurang tidur karena aku belajar matematika sampai larut malam,” jawab Ratna dengan nada rendah. Pada kenyataannya Ratna sama sekali tidak dapat konsentrasi belajar matematika karena kepikiran ulah Reza. Di tengah perjalanan menuju ke kelas, Ratna berpapasan dengan Reza. Ratna hanya bisa membuang muka di depan Reza dan memasang muka cuek.

Namun, tidak biasanya di wajah Reza terlihat raut penyesalan. Tanpa terlalu memikirkannya Ratna langsung bergegas menuju kelas karena sebentar lagi pelajaran pertama akan di mulai, yaitu pelajaran matematika. Pak Joko segera memulai pelajaran dan membagikan lembar demi lembar kertas ulangan kepada murid-muridnya. Beberapa menit sudah berlalu sejak ulangan matematika di mulai. Namun, belum ada satu nomor pun yang sudah dikerjakan Ratna. Ratna hanya bisa duduk terdiam menatap soal itu sembari menggaruk-garuk kepalanya. Dia sama sekali tidak tahu apa yang harus di- jawabnya. Satu jam kemudian bel berdering tanda bahwa pelajaran matematika sudah selesai. Ratna hanya bisa pasrah dengan menjawab apa adanya dan segera mengumpulkannya ke Pak Joko. Pelajaran kedua pun dimulai, yaitu pelajaran Biologi.

Dengan pakaian serba hijau seperti biasanya, Bu Siti masuk ke kelas Ratna dan duduk di kursi guru. “Oh ya, Ratna kemarin ibu lupa memberi tahumu”, kata bu Siti. “Memberi tahu apa, Bu?”tanya Ratna penasaran. “Kemarin di laboratorium kamu meninggalkan buku matematikamu. Ibu dengar hari ini kamu ulangan matematika. Oleh sebab itu, ibu guru menyuruh Reza untuk mengembalikannya ke kamu. Apa Reza sudah mengembalikan buku itu?” tanya Bu Siti. Ratna pun berdecak kaget seolah tidak percaya apa yang baru saja dia dengar dari Bu Siti. Ratna pun merasa sangat bersalah. Padahal Reza hanya mencoba mengembalikan buku itu, tetapi Ratna malah menuduhnya telah menyembunyikan buku itu. Ratna pun akhirnya meminta maaf kepada Reza dan Reza memaafkannya. Sejak itu, mereka berteman baik dan tidak pernah bertengkar lagi.

Ditulis oleh: Romana Necolleta Ayu Sekar Taji, Kelas 9B
Guru Pembina: Dra. Endang Asmawati

muhtarahmad

Leave a Reply Text

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *